KRITIKAN KERAS TERHADAP PELAYANAN PUBLIK DI RUMAH SAKIT GRAHA PERMATA IBU
Depok – newsgbn.com || Kronologi Singkat
Pada Sabtu, 1 Februari 2025, saya dan istri membawa anak kami, Elviano, ke Puskesmas Beji karena kondisinya agak kuning. Dokter merujuk ke spesialis anak, namun ada kendala nomor BPJS tidak muncul di aplikasi JKN akibat gangguan sistem. Kami diberikan rujukan mandiri sebagai alternatif jika BPJS belum bisa digunakan hingga pukul 17.00 WIB.
Sekitar pukul 14.00 WIB, setelah nomor BPJS bayi akhirnya muncul, saya kembali ke puskesmas untuk meminta rujukan BPJS. Namun, bayi kami belum masuk dalam Kartu Keluarga (KK) karena belum sempat diurus ke Dukcapil.
Pukul 15.30, kami mendatangi Rumah Sakit Graha Permata Ibu (RSGPI) karena dokter spesialis anak bertugas dari 16.00 WIB – 18.00 WIB. Sayangnya, kami ditolak dengan alasan bayi belum masuk KK (Kartu Keluarga), sehingga sistem tidak bisa memproses BPJS (Badan Penyelenggara Jasa Kesehatan). Kami bahkan diminta kembali ke puskesmas untuk menambahkan diagnosa pada surat rujukan, sebuah alasan yang tidak masuk akal.
Seharusnya, Rumah Sakit bisa lebih fleksibel dengan memprioritaskan kondisi pasien, bukan berpegang kaku pada sistem. Kami hanya ingin konsultasi dengan dokter Rini, yang bertugas sore itu, untuk mengetahui langkah penanganan bayi kami. Karena kecewa dengan buruknya pelayanan, kami akhirnya pulang tanpa mendapat perawatan yang seharusnya.
Pelayanan Rumah Sakit Graha Permata Ibu sangat mengecewakan dan tidak mengutamakan kepentingan pasien.
Pelayanan kesehatan seharusnya mengutamakan kepentingan pasien, bukan terjebak dalam birokrasi yang kaku dan tidak masuk akal. Namun, pengalaman yang saya alami di Rumah Sakit Graha Permata Ibu pada Sabtu, 01 Februari 2025, justru menunjukkan sebaliknya.
Kami datang dengan harapan mendapatkan pelayanan medis bagi anak kami yang sedang dalam kondisi mengkhawatirkan. Setelah melalui prosedur di Puskesmas Beji dan memperoleh rujukan BPJS, kami mendatangi Rumah Sakit Graha Permata Ibu sesuai jadwal dokter spesialis anak. Namun, yang kami terima bukanlah pelayanan yang cepat dan sigap, melainkan alasan yang tidak logis. Bayi kami belum masuk dalam Kartu Keluarga, sehingga sistem tidak bisa memproses BPJS.
Poin-Poin Kritik:
Ketidakpedulian terhadap urgensi medis
Seharusnya, sebagai institusi kesehatan, Rumah Sakit memahami bahwa kondisi bayi yang kuning adalah hal yang perlu ditangani segera. Bukannya memberikan solusi, Rumah Sakit justru bersembunyi di balik birokrasi yang kaku tanpa mempertimbangkan kepentingan pasien.
Kurangnya fleksibilitas dan kebijakan pro-pasien.
Alasan bahwa “sistem tidak bisa memproses” tidak dapat dijadikan dalih untuk menolak pelayanan. Rumah Sakit memiliki tanggung jawab untuk mencari solusi, bukan sekadar menutup pintu bagi pasien yang membutuhkan pertolongan. Dokter spesialis yang bertugas seharusnya bisa melakukan konsultasi terlebih dahulu, tanpa menunggu kepastian administrasi yang bisa diselesaikan belakangan.
Pelanggaran prinsip pelayanan publik
Dalam prinsip pelayanan publik, terdapat asas “kemanfaatan” dan “kepentingan umum” yang harus didahulukan. Namun, Rumah Sakit Graha Permata Ibu justru menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan prosedur administratif dibandingkan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Sikap tidak profesional dan kurangnya empati petugas Rumah Sakit.
Seorang tenaga medis dan administrasi di Rumah Sakit seharusnya memiliki empati terhadap pasien, terutama bayi yang jelas membutuhkan penanganan cepat. Namun, yang terjadi justru pengabaian yang mencerminkan buruknya etos kerja dan tanggung jawab mereka sebagai pelayan publik.
TUNTUTAN:
Saya meminta kepada Wali Kota Depok, Dinas Kesehatan, dan Ombudsman RI untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan di Rumah Sakit Graha Permata Ibu. Jika memang prosedur administratif menjadi penghalang, harus ada kebijakan yang lebih fleksibel agar masyarakat tidak menjadi korban ketidakbecusan sistem.
Pelayanan kesehatan bukanlah sekadar urusan administratif. Jangan sampai ada bayi lain yang mengalami nasib yang sama hanya karena rumah sakit lebih peduli pada sistemnya daripada nyawa pasiennya!
Kami menunggu tindakan nyata, bukan sekadar klarifikasi basa-basi.#red#
(Narasumber : Bonifasius Hia)

